Menerima Nasehat



                Dulu saat saya masih berstatus remaja awal, kakak saya sering memberi nasehat  tentang apa-apa. Seharusnya sejak dulu saya bersyukur, tapi sayangnya tidak. Malah seringnya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Sampai kakak saya gemas bukan main. Dan parahnya lagi, sayanya tidak sadar kalau salah.  Pokoknya, sebuah fenomena adik yang tidak tahu diri. Wkwk.

                Waktu itu saya kelas X. Saya ingat kakak saya pernah meminta saya untuk memakai rok kalau kemana-mana. Mau sih saya, tapi ya kalau lagi mau aja. Dan seringnya tidak mau. Di pikiran saya kala itu, pakai rok itu ribet. Kan yang penting menutup aurat ya, jadi pakai celana aja kayaknya tidak apa-apa. Lagian saya kurus, jadi ya walau pakai jeans, tidak bakalan jadi seksi. Huahaha. Namun perjuangan kakak saya dalam mengingatkan saya tidak berhenti sekali saja. Terus menerus, setiap hari. Sampai-sampai saya pernah menangis karena merasa terlalu banyak diatur. Benar, pikiran saya dulu sesempit itu. Huhu.

                Sampai akhirnya saya di titik sekarang. Titik di mana saya baru mulai sadar bahwa saya tidak akan menjadi sekarang tanpa cara Allah mengingatkan melalui kakak saya. Saya benar-benar baru sadar bahwa kita hidup sekarang, tidak terlepas dari pelajaran yang diberikan orang-orang di sekitar kita. Yap, kita tidak benar-benar tumbuh dengan sendirinya. Kita tidak sehebat itu. Ada peran-peran dari luar yang kita sadari atau tidak, ikut membentuk kita yang sekarang.

                Makin ke sini, saya makin resah dengan pertanyaan : bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari ke hari? Saya sadar, saya tidak dapat belajar sendiri.  Terus gimana dong? Kan malu ya, bilangan usia makin banyak, tapi sikap dan sifat masih gini-gini aja. Saya tidak mau jadi manusia yang celaka, help. Galau gitu ceritanya…

                Lalu saya jadi ingat kakak saya (lagi).

Kata beliau, “Kalau mau berubah, turunkan dulu gengsi kita. Sadar diri aja, kalau sejatinya kita belum apa-apa. Sadar diri aja, kalau sejatinya kita belum sebaik yang kita kira. Belajar dari orang-orang dan kesalahan masa lalu. Jangan sombong dengan tidak mau mendengar nasehat orang lain. Aku memang belum apa-apa juga, nak. Aku juga belum sebaik yang seharusnya. Namun kakakmu ini, 10 tahun hidup lebih dulu daripadamu. Kakakmu ini sudah lebih banyak merasakan pengalaman pun yang gagal-gagal. Kakakmu ini hanya ingin adiknya yang perempuan ini, tidak melalui kegagalan yang sama. Tidak melalui kesalahan yang sama dengan kakaknya. Harapan seorang kakak kepada adiknya sebenarnya hanya itu. Tidak perlu kamu harus menjadi ini itu. Cukup bagiku, kamu jadi adik yang mau mendengar dan belajar.”

Jadi, kuncinya adalah terbuka dengan nasehat orang. Karena sesederhana tidak mendengar nasehat saja, akhirnya membuat rugi diri sendiri. Berarti, kita menolak untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Berati, kita melewatkan hal baik yang sebenarnya kita berkesempatan untuk memilikinya. Prinsip memang harus dipegang, tapi jangan lupa untuk senantiasa berpikir dan bersikap terbuka. Karena kita tidak pernah tahu, hidayah datangnya melalui cara apa. Karena kita tidak pernah bisa menebak, level yang lebih baik itu bisa ditempuh dengan jalan mana.

Semoga kita menjadi orang yang tidak pernah sungkan menerima nasehat.  Apalagi kalau sudah jelas manfaat dan baiknya. Mengapa harus mempersempit diri dengan memikirkannya berulang kali? Waktu kita tidak banyak. Siapa tahu hanya sampai besok. Siapa tahu hanya sampai nanti. Semoga kita bisa menyiapkan bekal kehidupan setelah dunia dengan sebaik-baiknya :")

Mulai sekarang, jangan sungkan memberi nasehat ke saya ya. Kalau saya ada salah, tolong ingatkan saya :)
               


               

Comments

Popular posts from this blog

Book Review : Art of Dakwah

Kukira Kau Rumah