Posts

#Day4- The Most Beneficial Person Around You (except for family)

Klise sih, tapi saya percaya bahwa  'menjadi manusia yang lebih baik' adalah nasehat harga mati. Tidak seperti bawang di pasar- yang sekalipun mahal- namun tetap bisa ditawar. Jika ditanya the most beneficial person around you, susah susah gampang ya jawabnya. Soalnya banyak sekali orang baik yang bertebaran di mana-mana. Pun masing-masing has their own way to treats us well. Namun karena temanya ini, yoy dengarkan sedikit cerita tentang seseorang yang mampu membuat saya sedikit berbeda dari sebelumnya. ________________________ Saya seorang mahasiswa biasa dengan kondisi agama yang biasa juga. Selama ini saya baru mengerjakan perintah yang wajib- wajib, itupun belum dilakukan secara sempurna. Masih tahapan belajar, tapi karena santai ya jadi lama belajarnya. Masih sering naik turun semangat ibadahnya. Juga, masih suka labil imannya. Aih, ketika ditanya Allah di akhirat kelak, saya mau jawab apa coba :" Beruntung, saya bertemu dengan seorang teman baru d...

#Day2- Life Vision and The Missions

Ada alasan yang menjadikan kita bertahan. Dan itu tugas kita; menjabarkannya dengan baik dan rinci.  Hingga pada saat ditanya nanti, kita bisa menjawab dan terang menjelaskan bahwa hidup kita bukanlah suatu kebetulan. Ada alasan-alasan baik yang membuat kita masih berdiri, ada alasan- alasan masuk akal yang membuat Sang Pemilik tidak kecewa- telah menumbuhkan kita hingga detik ini. ________________ Kakak saya mengajak saya bicara serius sore itu. Kami menduduki kursi ruang tengah sambil mendengarkan alunan Banda Neira di Spotify gratisan. Sebenarnya tidak terlalu serius, awalnya. Ada obrolan-obrolan ringan di awal ala-ala. Saling bully. Kesalnya, saya yang selalu kalah. Satu tahun lebih merantau nampaknya belum mengasah ilmu balas bully saya yang dari jaman dulu masih segitu segitu aja. Di tengah percakapan, tiba-tiba kakak saya bertanya, "Apa kabar kuliahmu di sana, nak?" Saya mendongak lalu menjawab dengan santai, "Baik baik aja, doakan nilaiku di seme...

Jangan Sampai Lepas

Image
Apa yang sering kita dengar dari Papua? bagian Indonesia yang issu politiknya yang tak kunjung sirna.  Selain itu?  kondisi alam dan lingkungannya yang tidak baik- baik saja.  Padahal, yang belum kita tahu, tersimpan surga kecil di ujung timur Papua. Banyak muslim bersaudara yang lahir dan menghuni tanah di sana. Mereka hidup secara islam. Mereka sholat, belajar mengaji, pun mengenakan pakaian tertutup selayaknya muslim seharusnya.  Namun keadaan mereka belum sebaik muslim di belahan Indonesia lainnya. Belum seperti kita yang untuk mengerjakan urusan agama, fasilitas tersedia tanpa harus susah berupaya. Paling disoroti adalah kondisi mereka dalam belajar mengaji, hal penting untuk memperdalam dan mempertahankan oksigen islam dalam 'sirkulasi' kehidupan. Mereka terkendala bahasa dan bahan materi. Komunitas muslim yang ada pun baru beberapa, belum bisa menutup semua kendala yang ada. Jika membayangkan kehidupan mereka ke depan, wah! apa kabar? mung...

Kita Tumbuh dan Bersenyawa

Image
Judul ini saya ambil dari potongan lirik lagu Bersenyawa oleh Ayudia Chairani. Beberapa hari yang lalu, saya menghadiri sebuah seminar kepemudaan yang diselenggarakan oleh Bampu Pelangi, komunitas sosial PKN STAN. Kebetulan pembicara-pembicara yang dihadirkan adalah orang- orang yang keren, salah satunya 2nd Miss World 2015, Maria Harfanti. Saya dan teman-teman yang hadir excited sekali. Terlebih ketika Maria Harfanti menceritakan tentang perjalanan hidupnya yang penuh pengaruh dan prestasi. Di sela-sela materi dari Maria Harfanti, teman sebelah saya menoleh dan berkata "usiaku 20 tahun dan aku gini gini aja" Okay, kalimat itu sempurna mengingatkan saya akan sebuah buku yang sedang sering saya baca, tapi belum selesai. Bukunya Rando Kim yang berjudul Time of Your Life di sampulnya. Rasanya ingin menimpali teman saya tersebut dengan "kamu harus baca buku itu" tapi saya sendiri belum selesai bacanya, pun saya belum bisa soktau. Jadi saya akhirnya hanya...

Bukan Sekadar Cantik Duniawi

Ketika kami baru beres- beres lomba menghias kantong angkatan tiba- tiba datang seseorang di balik pintu, seorang kakak tingkat perempuan. Namanya Kak Uti. “Kak Uti, mari kak mari. Lomba Kreasi Korsanya baru saja dimulai, kak. Peserta sudah sibuk berkreasi di tiga kelas. Kak Uti duduk saja dulu di sini. Nanti pas mereka selesai, baru kita masuk, kak.” Tergesa- gesa kami mempersilakan Kak Uti masuk. Ceritanya beliau adalah juri lomba kreasi korsa angkatan 57. “Oh iya dek. Penilaiannya full padu padan busana kan ya? Aku baca di teknis lomba, make-up ngga dipakai” “Iya, kak. Penilaian hanya terdiri dari kreativitas busana, keserasian warna, keserasian antarbagian, dan juga kesopanan, kak. ” Lalu saya menyodorkan lembar penilaian kepada beliau. “Kesopanan? Menarik juga. Nanti aku boleh berkomentar selama penjurian? Aku mau tahu tentang fashion trend di kalangan kalian. Sepertinya ada value-value yang bisa aku sisipkan. Aku mau karena aku berpikir wah melalui ini bisa ...

Draft #3 Menggariskan Diri : Tekat

Bagi siapapun yang akan terlibat, keyakinan diri dan tekat yang bulat harus dipupuk sejak menjadi biji- yang lama- lama mengakar dan menjulang ke permukaan. Tekat harus senantiasa dipupuk sejak pertemuan- pertemuan pertama. Sejak ada yang menyuarakan bahwa peran ke depan memang harus dilakoni dengan sebaik-baiknya. Ada capaian yang harus diraih, ada target organisasi yang memang harus dikejar nyata.

Draft #2 Menggariskan Diri : Titik

Beberapa bulan berjalan bukanlah waktu yang singkat dalam berproses. Terhitung sejak November hingga sekarang, sudah tidak dapat dihitung lagi berapa kali sedih- senang terlampaui dalam menjalankan amanah ini. Namun ada satu hal yang terkadang lupa untuk diingat kembali; yaitu tentang kabar dalam menggariskan diri.